
Mesin duplikasi telah merevolusi cara kita menyalin dan mendistribusikan informasi. Dari cetak biru (blueprint) yang rumit hingga salinan fotokopi yang mudah dan cepat, perjalanan teknologi ini telah memengaruhi berbagai bidang, mulai dari arsitektur hingga pendidikan. Mari kita telusuri sejarah singkat mesin duplikasi yang menarik ini.
Awal Mula: Cetak Biru (Blueprint)
Sebelum munculnya teknologi modern, metode duplikasi dokumen yang paling umum adalah blueprint atau cetak biru. Proses ini ditemukan pada tahun 1842 oleh astronom Inggris, Sir John Herschel. Cetak biru memanfaatkan senyawa kimia yang peka terhadap cahaya, yaitu besi amonium sitrat dan kalium ferisianida.
Untuk membuat cetak biru, gambar atau teks asli digambar di atas kertas transparan. Kertas ini kemudian diletakkan di atas kertas yang telah dilapisi bahan kimia peka cahaya. Setelah terpapar sinar matahari atau cahaya kuat, area yang terbuka akan bereaksi dan berubah menjadi warna biru Prusia yang stabil. Bagian yang tertutup oleh garis gambar akan tetap putih. Hasilnya adalah cetak biru dengan garis putih pada latar belakang biru, sering digunakan untuk menyalin gambar arsitektur dan teknik.
Era Mesin Stensil dan Spirit Duplicator
Pada akhir abad ke-19, muncul metode duplikasi yang lebih cepat dan efisien. Pada tahun 1887, Thomas A. Edison mematenkan mimesograf (mimeograph), sebuah mesin stensil yang menggunakan stensil yang dibuat dengan mengetik atau menggambar di atas kertas lilin khusus. Stensil ini kemudian diletakkan di atas drum berongga berisi tinta. Tinta akan menembus stensil dan mencetak pada kertas di bawahnya. Mesin ini menjadi sangat populer di sekolah dan kantor untuk membuat salinan dalam jumlah banyak dengan biaya rendah.
Tidak lama setelah itu, pada tahun 1923, perusahaan A.B. Dick Company memperkenalkan Spirit Duplicator atau mesin “Spirit”. Mesin ini menggunakan cairan berbasis alkohol (spirit) dan master sheet khusus yang dilapisi tinta anilin. Master sheet ditulis atau digambar, lalu diletakkan di drum mesin. Kertas kosong yang dibasahi cairan spirit ditekan pada master sheet, melarutkan sebagian tinta dan menghasilkan salinan. Mesin ini menghasilkan salinan berwarna ungu khas, dan sering digunakan di sekolah dan gereja hingga era 1970-an.
Revolusi Fotokopi: Penemuan Chester Carlson
Perkembangan paling signifikan dalam sejarah mesin duplikasi terjadi pada tahun 1938 ketika seorang fisikawan bernama Chester Carlson menemukan proses elektrofotografi. Pada masa itu, Carlson bekerja sebagai penemu paten dan merasa frustrasi dengan lambatnya proses menyalin dokumen. Ia menyadari kebutuhan akan metode yang lebih efisien untuk menduplikasi teks.
Prinsip dasar penemuannya adalah memanfaatkan daya tarik muatan listrik statis. Proses ini, yang kemudian dikenal sebagai xerografi, melibatkan beberapa langkah:
- Sebuah pelat konduktif dilapisi dengan bahan peka cahaya (biasanya selenium) dan diberi muatan listrik.
- Cahaya diproyeksikan ke dokumen asli. Area gelap pada dokumen (teks atau gambar) akan memblokir cahaya, sementara area putih akan memantulkan cahaya.
- Cahaya yang dipantulkan akan mengenai pelat, menghilangkan muatan listrik pada area tersebut. Area yang gelap (teks) akan mempertahankan muatannya.
- Serbuk tinta (toner) yang bermuatan berlawanan disebarkan ke pelat. Toner akan menempel hanya pada area yang masih bermuatan.
- Kertas kosong diletakkan di atas pelat. Muatan yang lebih kuat menarik toner dari pelat ke kertas.
- Panas dan tekanan digunakan untuk melelehkan toner dan menyatukannya secara permanen ke serat kertas.
Pada tahun 1944, Carlson mematenkan penemuannya dan kemudian berkolaborasi dengan perusahaan Haloid Company (yang kemudian menjadi Xerox Corporation). Mesin fotokopi komersial pertama, Xerox 914, diluncurkan pada tahun 1959. Mesin ini adalah sebuah terobosan, sangat mudah digunakan dan dapat membuat salinan berkualitas tinggi dalam hitungan detik. Xerox 914 mengubah dunia perkantoran dan mendefinisikan ulang istilah “fotokopi” di seluruh dunia.
Evolusi Mesin Fotokopi Modern
Sejak peluncuran Xerox 914, teknologi fotokopi terus berkembang pesat. Mesin menjadi lebih kecil, lebih cepat, dan lebih terjangkau. Fitur-fitur seperti pencetakan dua sisi otomatis, penyortiran, dan kemampuan warna mulai ditambahkan.
Pada akhir abad ke-20, batas antara mesin fotokopi, printer, dan scanner mulai kabur. Munculnya perangkat multifungsi (Multi-Function Printer/MFP) yang menggabungkan semua fungsi ini dalam satu unit menjadi standar di banyak kantor dan rumah. Saat ini, mesin duplikasi tidak hanya terbatas pada salinan fisik; kita juga dapat menduplikasi informasi secara digital melalui pemindaian (scanning) dan pencetakan (printing).
Dari cetak biru yang membutuhkan sinar matahari dan bahan kimia, hingga mesin fotokopi yang praktis di setiap sudut kantor, sejarah mesin duplikasi adalah kisah inovasi yang terus-menerus. Teknologi ini telah memainkan peran kunci dalam menyebarkan pengetahuan, meningkatkan produktivitas, dan mengubah cara kita berinteraksi dengan informasi.
Jika Anda sedang mencari Pusat Sewa Mesin fotokopi murah dengan hasil bagus, bisa banget coba layanan dari CV. Htree Mutiara Copier. Selain sewa mesin fotocopy, kami juga punya layanan cetak dokumen yang cepat, rapi, dan ramah di kantong.
📍 Lokasi: Komplek Permata Kopo 2, Jl. Opal Blok C.2 No.70, Sukamenak – Kab. Bandung
📞 WhatsApp: 0881-0239-77889